Dari Layar ke Kesadaran: Refleksi Gender dan Spiritualitas dalam Film Tuhan Izinkan Aku Berdosa Mahasiswa KPI IAI-N Laa Roiba Ajak Generasi Muda Kritis terhadap Representasi Perempuan dan Tafsir Agama
Admin Laaroiba | 24 Juni 2025 | Dibaca 139 kali |


Bogor, 23 Juni 2025 — Mahasiswa semester 4 Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Institut Agama Islam Nasional (IAIN) Laa Roiba Bogor menggelar kegiatan Bedah Film berjudul “Tuhan Izinkan Aku Berdosa”sebagai bagian dari Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Media, Gender, dan Anak. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ruang apresiasi sinema, tetapi juga sebagai ajang refleksi dan kritik terhadap representasi perempuan, kekuasaan moral, dan dinamika spiritualitas dalam media.

Bertempat di Kafe Abu Nawas, Kabupaten Bogor, acara ini dikemas dengan suasana santai namun penuh makna. Menghadirkan dua narasumber kompeten dari kalangan akademisi dan praktisi, acara ini menjadi ruang belajar bersama yang membuka kesadaran mahasiswa terhadap isu gender, bias tafsir agama, dan kekerasan simbolik yang kerap terbungkus dalam produk budaya populer.

Ruang Reflektif, Bukan Sekadar Menonton

Ketua pelaksana kegiatan, Najwatul Marwiyah, menyatakan bahwa pemilihan film ini didasari oleh keresahan kolektif terhadap narasi perempuan dalam media yang sering kali dibungkam atau dibingkai secara tidak adil. “Acara ini bukan sekadar menonton dan mendiskusikan sebuah karya sinema, tetapi menjadi ruang reflektif untuk membuka mata dan hati terhadap isu-isu gender yang kerap tersembunyi di balik layar. Film adalah cermin masyarakat — dan melalui film ini, kita mencoba memahami bagaimana perempuan digambarkan, dimaknai, bahkan tak jarang dikungkung oleh konstruksi sosial yang tidak adil,” ujar Najwa.

Kekerasan Berlapis terhadap Perempuan dalam Film

Film “Tuhan Izinkan Aku Berdosa” merupakan adaptasi dari novel  karya Muhidin M. Dahlan dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Film ini dipilih karena secara gamblang menyoroti realitas perempuan sebagai korban ganda: kekerasan seksual, tekanan ekonomi, manipulasi spiritual, hingga stigmatisasi sosial.

Dalam sesi pemaparan, Siti Lutfi Latifah, M.Sos., selaku dosen pengampu mata kuliah, menekankan bahwa film ini mengajak kita membaca ulang realitas perempuan dalam bingkai relasi kuasa yang timpang.

“Kita melihat bagaimana Kiran menjadi korban kekerasan dari berbagai sisi oleh dosen, teman kampus, hingga tokoh agama seperti Abu Darda. Sayangnya, dalam kehidupan nyata, korban adalah saksi yang paling sulit didengar. Ada eksploitasi ekonomi yang dilegitimasi oleh kekuatan patriarki, manipulasi kedekatan religius, hingga penghakiman komunitas yang membuat ruang aman bagi perempuan semakin sempit,” jelas Lutfi.

Ia juga menegaskan bahwa persoalan utama bukan pada agama itu sendiri, tetapi pada cara agama digunakan sebagai alat legitimasi kekuasaan yang maskulin.

“Al-Qur'an adalah kitab yang adil karena diturunkan dari Zat Yang Maha Adil. Namun, tafsir terhadap Al-Qur'an belum tentu selalu mencerminkan keadilan itu, sebab ia ditafsirkan oleh manusia yang memiliki kecenderungan—baik hawa nafsu maupun ketakwaan—dan tentu dipengaruhi oleh latar belakang sosial, psikologis, hingga pendidikan mufasirnya. Seperti yang digambarkan dalam film ini, ketika tafsir agama jatuh ke tangan yang keliru, ia bisa disalahgunakan untuk membenarkan ketimpangan, membungkam suara perempuan, dan melanggengkan ketidakadilan,” jelasnya.


Realitas Lapangan: Dari Fiksi ke Fakta

Penguatan analisis hadir dari praktisi lapangan, Sri Hastusi Julianti, yang memiliki pengalaman dalam pendampingan korban kekerasan berbasis gender dan agama.

“Apa yang ditampilkan dalam film ini bukan sekadar fiksi. Di lapangan, saya sering menjumpai kasus serupa, di mana perempuan menjadi korban eksploitasi dan kekerasan berbasis agama, namun sulit mendapatkan ruang aman bahkan untuk sekadar bersuara, dan memang sebagai korban mereka sering kali tidak dipercaya bahkan oleh keluarganya” ungkapnya.

Ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif untuk melawan budaya diam dan membangun literasi media dan agama yang adil gender.

“Kita perlu memperkuat kemampuan generasi muda untuk mengenali mana ajaran yang benar, dan mana tafsir yang dipakai untuk membungkam. Literasi media dan agama harus berjalan beriringan,” pungkasnya.

Membangun Kesadaran Kritis dan Ruang Aman

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa KPI untuk menumbuhkan perspektif kritis terhadap representasi media, serta mendorong budaya diskusi yang reflektif dan terbuka terhadap isu-isu kemanusiaan.

Para peserta tidak hanya diajak menonton, tetapi juga aktif menyuarakan pandangannya dalam forum diskusi bersama narasumber. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KPI berharap mampu memperkuat kesadaran tentang pentingnya membaca media secara kritis, serta mendukung perempuan sebagai subjek penuh dalam narasi dan kehidupan nyata.

Sebagai penutup, film Tuhan Izinkan Aku Berdosa tidak hanya menyajikan kisah tentang perempuan yang dianggap berdosa, tetapi justru membuka ruang refleksi tentang dosa kolektif masyarakat terhadap perempuan, yang kerap terjadi melalui tafsir agama yang bias, sistem pendidikan yang tidak berpihak, serta relasi keluarga dan cinta yang tidak setara. Melalui pendekatan kajian gender dan komunikasi media, kegiatan ini mengajak peserta untuk memahami bahwa media tidak pernah netral, dan bahwa perempuan sering kali dijadikan objek penebusan moral, meskipun mereka yang paling banyak memikul luka. Tokoh Kiran menjadi simbol dari suara perempuan yang selama ini dibungkam, dan kehadirannya dalam film ini memanggil kita untuk tidak hanya menyimak cerita, tetapi juga membongkar struktur kuasa yang bekerja di baliknya. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah kecil menuju kesadaran bersama bahwa membaca media dan agama secara kritis adalah bagian dari perjuangan membela kemanusiaan dan keadilan bagi perempuan adalah salah satu bentuk tertingginya.



BAGIKAN :