Bogor, 28
Juni 2025 Himpunan
Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah
dan Komunikasi Islam, Institut Agama Islam Nasional (IAI-N) Laa Roiba Bogor,
sukses menyelenggarakan Seminar Nasional bertema “Jurnalisme Konvergensi dan Masa Depan
Informasi di Indonesia”,
yang menjadi puncak dari rangkaian kegiatan Jurnalis Fair 2025. Bertempat di Aula Pascasarjana IAI-N Laa Roiba, kegiatan
ini menjadi ruang reflektif sekaligus edukatif bagi mahasiswa dan insan muda
media untuk memahami arah jurnalisme masa depan dalam lanskap media yang terus
berubah.
Dalam
sambutannya, Ketua
Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Siti Lutfi Latifah, M.Sos menyampaikan pentingnya kegiatan ini sebagai
wadah untuk membangun kesadaran bersama tentang peran strategis generasi muda
dalam praktik jurnalisme yang adaptif, etis, dan inklusif. “Kami memandang
jurnalisme bukan hanya sebagai profesi teknis, tetapi sebagai medan dakwah
kultural—yang menyuarakan nilai, menjaga integritas, dan membangun kesadaran
kritis publik,” ungkapnya.
Kegiatan ini
dirancang dengan lima tujuan utama, yaitu mendorong partisipasi aktif generasi
muda dalam pengembangan jurnalisme yang adaptif terhadap konvergensi media;
mengasah keterampilan jurnalistik dalam format tulis, visual, dan digital;
menumbuhkan kesadaran akan keberagaman dan tanggung jawab sosial; menyediakan
ruang ekspresi kreatif untuk menjawab tantangan informasi digital; serta
melahirkan calon jurnalis muda yang visioner dan beretika.
Tiga
narasumber nasional dihadirkan dalam seminar ini, masing-masing menyampaikan
pandangan strategis dan pengalaman lapangan dalam menghadapi transformasi dunia
media. Hidayatul
Mulyadi, Video Jurnalis
KompasTV, menekankan pentingnya menjaga empati dalam kerja jurnalistik di
tengah dominasi teknologi dan AI. Menurutnya, meski AI bisa menjadi alat bantu,
namun tidak mampu menggantikan sentuhan kemanusiaan yang menjadi ruh
jurnalisme.
Risna
Rahayu, eks Jurnalis
Okezone, membagikan tantangan kompetensi jurnalis era kini—mulai dari
keterampilan multiplatform, video pendek untuk media sosial, pemahaman
algoritma, hingga kemampuan membaca performa konten. Ia menyebut bahwa jurnalis
kini tidak hanya menulis, tapi juga perlu memahami ekosistem digital secara
menyeluruh.
Sementara
itu, Sabir Laluhu, jurnalis dan penulis, mengangkat sisi reflektif dari
dampak konvergensi terhadap nasib media dan jurnalis itu sendiri. Ia menekankan
bahwa konvergensi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga tentang pilihan nilai
dan ketahanan identitas profesi. “Jurnalisme yang bertahan adalah jurnalisme
yang lahir dari panggilan hati, bukan sekadar pekerjaan,” tegasnya.
Seminar ini
dihadiri oleh lebih dari 120 peserta aktif, termasuk perwakilan mahasiswa dari berbagai kampus, di
antaranya INU Tasikmalaya, Universitas Ibnu Khaldun Bogor, KPI Muhammad Natsir
Bekasi, Universitas Riau, hingga Universitas Airlangga, Politeknik Negeri
Semarang dll, termasuk Aliansi KPI Bergerak yang mendukung jaringan kolaboratif
lintas kampus.
Sebagai
bagian dari rangkaian
Jurnalis Fair, sebelumnya
telah digelar empat cabang lomba yaitu: Penulisan Feature, News Reporting,
Desain Poster, dan Fotografi. Final lomba News Reporting dan pengumuman
pemenang dilaksanakan bertepatan dengan hari seminar.
Beberapa
nama yang berhasil meraih juara pertama antara lain: Rafliansyah dari IAI Nasional Laa Roiba Bogor (Feature
Writing), Zaidan Fadhlurrahman dari Universitas Ibn Khaldun Bogor (Fotografi), Selvi Andini dari Universitas Riau (News Reporting), dan Muhammad Fahrurrozi Mubarok dari STID Mohammad Natsir (Desain Poster).
Kegiatan ini
menjadi wujud komitmen KPI IAI-N Laa Roiba Bogor dan seluruh jejaring mahasiswa
KPI untuk memperkuat kapasitas jurnalisme kritis dan bertanggung jawab, serta
membekali generasi muda agar mampu menjadi aktor strategis dalam menghadapi
masa depan informasi yang semakin kompleks.