Bogor — IAIN Nasional Laa Roiba hari ini menggelar Seminar Nasional yang dirangkaikan dengan Sarasehan Alumni, mengangkat tema aktual dan kritis: “Ketimpangan Kesejahteraan: Guru Diabaikan, SPPG Diistimewakan.” Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama atas dinamika kebijakan pendidikan dan kesejahteraan tenaga pendidik di Indonesia.
Seminar menghadirkan tiga narasumber nasional, yakni Arafat Nasrul Loh, SH., MH. (Wakil Ketua Peradi Kab. Bogor), Tedi Malik (Ketua PGMM Pusat), dan Ubedilah Badrun, M.Si. (Pengamat Politik Nasional). Acara berlangsung dinamis dengan diskusi yang tajam dan partisipasi aktif dari dosen, mahasiswa, serta para alumni.
Perspektif Hukum: Keadilan bagi Guru
Dalam pemaparannya, Arafat Nasrul Loh menyoroti aspek konstitusional dan keadilan hukum dalam kebijakan pendidikan.
“Ketimpangan kesejahteraan guru bukan sekadar persoalan administratif, tetapi menyangkut keadilan sosial sebagaimana diamanatkan konstitusi. Guru adalah pilar utama bangsa. Jika mereka diabaikan, maka negara sedang melemahkan fondasi peradaban,” tegasnya.
Ia juga mendorong adanya evaluasi kebijakan agar tidak terjadi disparitas antara program-program strategis pemerintah dengan penghargaan terhadap profesi guru.
Guru sebagai Penentu Masa Depan Bangsa
Ketua PGMM Pusat, Tedi Malik, menekankan bahwa kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kesejahteraan guru.
“Kita tidak bisa berbicara tentang generasi unggul jika guru masih berjuang memenuhi kebutuhan dasarnya. Program SPPG boleh jadi prioritas, tetapi jangan sampai guru yang mendidik generasi bangsa justru terpinggirkan,” ujarnya.
Menurutnya, negara perlu menghadirkan kebijakan yang proporsional dan berorientasi jangka panjang, bukan sekadar populis.
Tinjauan Politik Anggaran
Sementara itu, Ubedilah Badrun melihat persoalan ini sebagai bagian dari dinamika politik kebijakan publik.
“Ketimpangan kesejahteraan adalah cermin dari pilihan politik anggaran. Siapa yang diutamakan dan siapa yang terabaikan adalah keputusan politik. Karena itu, kampus harus hadir sebagai kekuatan moral dan intelektual untuk mengkritisi secara konstruktif,” paparnya.
Ia menegaskan pentingnya kontrol publik dan peran akademisi dalam menjaga keberpihakan kebijakan pada keadilan sosial.
Sambutan Rektor: Kampus sebagai Penjaga Nurani Bangsa
Rektor IAIN Nasional Laa Roiba, Dr. Hj. Ernawati, SE., M.Pd., dalam sambutannya menegaskan komitmen kampus dalam mengawal isu-isu strategis kebangsaan.
“Seminar ini adalah wujud tanggung jawab moral dan akademik Laa Roiba. Guru adalah pelita peradaban. Ketika kesejahteraan mereka timpang, maka masa depan generasi ikut dipertaruhkan,” ungkap beliau.
Rektor juga berharap forum ini melahirkan rekomendasi konkret dan menjadi bagian dari kontribusi nyata perguruan tinggi dalam memperjuangkan keadilan pendidikan.
Ketua Alumni: Soliditas untuk Advokasi Pendidikan
Ketua Alumni IAIN Nasional Laa Roiba, Dr. Rukyat, M.Ag., dalam sambutannya menyampaikan pentingnya peran alumni dalam isu-isu sosial dan pendidikan.
“Alumni Laa Roiba harus menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Ketika ada ketimpangan yang menyentuh dunia pendidikan, kita tidak boleh diam. Kita harus bersuara, berkontribusi, dan mengawal kebijakan demi keadilan bagi guru,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa sarasehan alumni menjadi momentum memperkuat jejaring dan kolaborasi dalam memperjuangkan nilai-nilai keilmuan dan keadilan sosial.
Seminar nasional dan sarasehan alumni ini menegaskan posisi IAIN Nasional Laa Roiba sebagai kampus yang responsif terhadap persoalan bangsa serta konsisten menghadirkan forum akademik yang kritis, solutif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
#papabeb