Bogor, 30 Juni 2026 — Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap isu kekerasan terhadap perempuan dan anak, tantangan kesehatan mental keluarga, serta ketimpangan sosial yang masih menjadi persoalan di Indonesia, mahasiswa Semester 4 Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Institut Agama Islam (IAI) Nasional Laa Roiba menyelenggarakan Bedah Film Pangku sebagai ruang belajar yang menghubungkan media, ilmu pengetahuan, dan realitas sosial.
Kegiatan yang berlangsung di Kampus 2 IAI Nasional Laa Roiba Bogor, ini merupakan bagian dari implementasi pembelajaran Mata Kuliah Media, Gender, dan Anak. Melalui pendekatan berbasis film, mahasiswa diajak memahami bahwa media tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga memiliki peran strategis dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap perempuan, anak, dan kelompok rentan.
Acara diawali dengan registrasi peserta, dilanjutkan sambutan Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam yang menekankan pentingnya membangun budaya literasi media di kalangan mahasiswa. Dalam sambutannya disampaikan bahwa kemampuan membaca pesan media secara kritis merupakan kompetensi penting bagi calon komunikator di tengah derasnya arus informasi digital dan berkembangnya berbagai persoalan sosial.
Ketua Komisariat Semester 4 turut mengapresiasi inisiatif mahasiswa dalam menghadirkan ruang diskusi akademik yang lebih partisipatif. Menurutnya, kegiatan seperti ini tidak hanya memperkuat budaya ilmiah di lingkungan kampus, tetapi juga melatih mahasiswa berdialog, menghargai perbedaan pandangan, dan menghubungkan teori dengan realitas kehidupan.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran film Pangku, yang mengisahkan perjuangan seorang ibu menghadapi kemiskinan, tekanan sosial, dan tanggung jawab membesarkan anak di tengah keterbatasan. Film tersebut menjadi titik awal diskusi mengenai berbagai persoalan sosial yang masih relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, seperti ketimpangan gender, kemiskinan, stigma terhadap perempuan, hingga dampaknya terhadap tumbuh kembang anak.
Pada sesi bedah film, Siti Lutfi Latifah, M.Sos., dosen pengampu Mata Kuliah Media, Gender, dan Anak, membawakan materi bertajuk "Interseksionalitas Gender, Kerentanan Anak, dan Representasi Media dalam Film Pangku: Membangun Kesadaran Kritis terhadap Ketimpangan Sosial dan Perlindungan Hak Anak."
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa pengalaman tokoh utama dalam film tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan pilihan individu.
"Film Pangku memperlihatkan bahwa kerentanan perempuan sering kali lahir dari pertemuan berbagai faktor, seperti kemiskinan, ketimpangan gender, terbatasnya akses terhadap pekerjaan yang layak, hingga lemahnya perlindungan sosial. Ketika kerentanan itu dialami seorang ibu, dampaknya tidak berhenti pada dirinya, tetapi juga turut membentuk kerentanan yang dialami anak," jelas Lutfi
Ia juga menekankan bahwa media memiliki kekuatan untuk membangun empati sekaligus menghadirkan kritik terhadap struktur sosial yang masih melanggengkan ketidakadilan.
"Film bukan sekadar hiburan. Film adalah teks sosial yang dapat mengajak kita melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Melalui media, kita belajar untuk tidak terburu-buru menghakimi seseorang tanpa memahami konteks yang melatarbelakanginya," tambahnya.
Perspektif lain disampaikan oleh Muhammad Dzunurayn, S.Psi., M.Si., yang mengulas film melalui pendekatan psikologi dengan tema "Resiliensi Keluarga dalam Situasi Rentan: Perspektif Psikologi terhadap Film Pangku".
Menurutnya, tekanan ekonomi, kehilangan dukungan keluarga, dan stigma sosial tidak hanya memengaruhi kondisi psikologis orang tua, tetapi juga perkembangan emosional anak.
"Anak sering kali menjadi korban yang tidak terlihat. Mereka tumbuh dalam situasi yang tidak mereka pilih, namun harus menanggung konsekuensi dari berbagai persoalan orang dewasa. Karena itu, perlindungan anak tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menciptakan rasa aman secara psikologis," ujarnya.
Diskusi berlangsung aktif dengan partisipasi mahasiswa yang mengajukan berbagai pertanyaan dan analisis dari perspektif komunikasi, gender, psikologi, hingga nilai-nilai kemanusiaan. Beragam pandangan yang muncul memperlihatkan bahwa sebuah karya film mampu menjadi media pembelajaran yang mendorong dialog kritis sekaligus memperkaya cara pandang terhadap realitas sosial.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar mengidentifikasi pesan-pesan yang disampaikan media, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berargumentasi secara ilmiah, dan menghargai keberagaman perspektif dalam membaca suatu fenomena. Film dipahami sebagai media komunikasi yang tidak hanya merepresentasikan realitas, tetapi juga berpotensi membentuk opini publik serta memengaruhi sikap masyarakat terhadap isu-isu sosial.
Kegiatan Bedah Film Pangku menjadi bagian dari komitmen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAI Nasional Laa Roiba dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, reflektif, dan responsif terhadap perkembangan masyarakat. Melalui ruang-ruang dialog seperti ini, mahasiswa dipersiapkan tidak hanya sebagai komunikator yang kompeten, tetapi juga sebagai insan akademik yang memiliki kepekaan sosial, berpikir kritis, dan mampu memanfaatkan media sebagai instrumen edukasi, advokasi, serta perubahan sosial yang berkeadilan.
Sejalan dengan semangat Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, kegiatan ini menegaskan bahwa komunikasi tidak berhenti pada kemampuan menyampaikan pesan, tetapi juga menjadi ikhtiar untuk menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan keberpihakan kepada kelompok rentan. Melalui literasi media yang kritis, mahasiswa diharapkan mampu menjadi komunikator yang tidak hanya cakap berbicara, tetapi juga peka membaca realitas sosial serta menghadirkan narasi yang membangun empati dan mendorong perubahan yang lebih berkeadilan